4 views

Ini cerita 7 tahu lalu, ketika Fatur masih usia 15 tahun, masih sekolah SMA.

“Yah, Sudah dua malam mas ngak bisa tidur. Ini malam ketiga ayah”, Ini adalah suara lirih dari anak saya nomor dua Fathur yang duduk dibangku sma dua minggu yang lalu.

Dia memang selalu menyebut dirinya dengan panggilan kakak dinama depannya ”mas”, kepada dirinya sendiri. Waktu menunjukan pukul 11 malam saat itu. Sebagaimana kebiasaan saya kalau malam sebelum tidur saya selalu menyempatkan melihat anak-anak dikamar mereka.

Kenapa emangnya mas? Saya bertanya

Ngak tau yah, padahal badan cape banget. Kemarin renang dari pulang sekolah sampai magrib. Trus hari ini futsal. Cape belajar, cape olah raga tapi kok ngak bisa tidur. Jam 2 malem lebih kemarin kayaknya baru bisa tidur.

Mas fathur ada mikir apa?

Ngak tau yah, kayak orang bingung gitu..kayak orang ngak tau mau ngapain, katanya sambil duduk dari pembaringan tidurnya. Saya nyalakan lampu kamarnya, dan duduk disampingnya. Sambil mencari ide apa kira-kira yang harus saya sarankan atau lakukan.

Mendadak terbersit saya keingetan sesuatu. Saya punya janji memberikan buku kepada seorang kakak asuh di panti yatim marhamah di bilangan cipinang.

Ehmm, gini mas, mau ngak nemenin ayah ke yayasan yatim marhamah di cipinang sekarang. Dan, karena jalanan sudah tengah malam, bagaimana kalau mas fathur yang ngetir?!
Wajahnya berubah semangat. Dia mengangguk cepat sambil menganti baju segera. Melihat wajahnya berubah semangat, saya juga jadi semangat. Saya bangunkan istri dan pamit bahwa kita berdua mau menuju panti yatim karena fathur ngak bisa tidur, sekaligus melancarkan nyetir mobilnya, sekaligus memenuhi janji kepada sahabat lama kakak asuh panti tersebut. Satu kali dayung tiga empat pulau terlampaui.

Fathur memundurkan mobil, saya membuka gerbang. Dan gang di depan rumah kami yang sempit mulus dia lewati dengan lincah. Saya memujinya, wah mas sudah mahir ya.,..o iya ayah, khan sering latihan sama mbak azka pake mobil temen2 hehe.

Selagi berdua seperti ini, memang private moment yang spesial bagi saya. Diskusi banyak hal disempatkan termasuk menjawab pertanyaan fathur apa ngak apa-apa dateng malem2 ke yayasan panti yatim? Disinilah kesempatan melakukan caddying atau mentoring yang tepat bukan dengan wejangan namun sebisa mungkin dengan pengalaman. Saya menjawab, mas fathur, ayah sudah ngurus panti yatim lebih tua dari umur kamu. Kalau sekarang kamu usianya 15 tahun ayah kira-kira mengenal, mengelola, dan sebisa mungkin membantu yaitu lebih dari 18 tahun. Tahun 1995 ayah pertama kali terlibat hingga sekarang.

Jadi, dipanti yatim marhamah di cipinang ini walau kita datang jam 1 pasti ada yang bangun. Entah mereka mau sholat malam, atau lagi ngaji apapun itu mereka ada kehidupan disana. Ada 150 anak disana. Tempatnya over crowded sih, sudah kelebihan kapasitas jadi sering ada yang kebagian tempat tidur. Nanti mas lihat aja.

Benar dugaan saya. Begitu kami tiba disana. Ada anak yang belum tidur. Lalu saya tanya pada seorang anak yang menyapa kami di halaman depan. Nak, pak Ustad Usman ada? Ada pak, tapi sudah tidur. Adiknya ada, barusan lewat sini. Pak amien? Saya mencoba memastikan. Iya pak, dijawab anak tersebut. Wah kebetulan, tolong panggil ya. Saya tunggu di ruang tamu.

Saya menengok ke fathur, dan saya memperhatikan dia berjalan kearah belakang. Ini adalah kedatangannya pertama ke sini. Tak lama saya pun sibuk berdialog dengan sahabat lama yang tinggal di surabaya yang kebetulan sedang mengunjungi kakaknya di jakarta.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 2 malam. Saya mengantuk sekali. Saya pun mohon diri. Fathur dengan cepat berjalan pamit cium tangan pak amien, lalu tdengan tertunduk dia memberikan kunci mobil kesaya. Ayah aja yang nyetir ya, katanya lirih. Saya melirik dengan sudut kata raut wajahnya agak lusuh entah mengapa, namun saya pura-pura tidak tau.

Mobil bergerak, dia merubuhkan posisi sandaran tempat duduk dan merebahkan dirinya tidur dengan posisi membelakangi saya. Tidur sedikit melingkar. Saya bertanya dalam hati, kenapa ini anak?

Malam sepi, hening, jalan mobil melaju cepat. Saya memperhatikan gerakan fathur sesekali dan saya mengerti, dia sedang menangis, atau menahan tangis. Saya jadi penasaran. Saya pun bertanya..

Kenapa mas?

Tidak di jawabnya. Dia diem saja. Tak lama dengan suara parau dia berkata, ngak apa-apa ayah, hanya sedih aja.

Saya pun tidak meneruskan bertanya. Saya biarkan dia menikmati posisinya, menikmati perasaannya. Hingga sampai rumah, dia membuka gerbang dan terus menuju kamarnya. Selesai saya siap-siap hendak tidur, saya naik kekamarnya dan mendapatkan dia sudah lelap tertidur. Memang, biasanya sehabis menagis tidur memang menjadi cepat dan yang membuat penasaran adalah mengapa dia menangis. Otoritatif orangtua yang curious pengen tahu saya tahan saja. Saya bersabar. Toh kalau waktunya dia merasa ingin bicara, dia akan bicara juga.

Singkat cerita, waktu berjala cepat. Keesokan harinya waktu jam 8 malam saya sehabis olahraga joging di treatmill olahraga rutin saya seminggu 3 kali baru tiba dirumah. Saya tidak melihat fathur sehingga bertanya pada bunda dhita, kemana si mas? Sudah tidur yah. Kecapeaan dia. Ngantuk. Pulang jam 7 malem tadi, makan, mandi langsung tidur.

Wah , sudah ngak insomnia lagi dia. Saya bercanda nyeletuk, yang dibalas dengan senyum lebar istri. Saya pun seperti biasa melakukan ritual rutin. Nonton discovery chanel atau sport chanel di tv sebagai bentuk refreshing saya. Jam 11 tiba. Ritual harianpun saya lakukan . cek kamar anak-anak kelantai dua. Dari posisi tangga saya melihat kamar fathur lampunya masih nyala. Pikiran saya pun berasumsi, apa dia ngak bisa tidur lagi?!

Saya membuka pintu kamar fathur perlahan. Mata dengan cepat menyapu kamarnya yang kecil sempit dan mendapati fathur sedang meringkuk tidur lelap sekali. Agaknya saking capenya lampu lupa dimatikan. Saya pun menjulurkan tangan mematikan lampu kamarnya. Klik lalu pelan-pela mentup pintu. Belum pintu tertutup sempurna terdengar suara lirih fathur, ayah?!.

Iya nak?..saya menjawab sambil membuka kembali pintu kamarnya dan menyembulkan kepala saya kedalam.

Sambil tiduran fathur berkata, yah..terima kasih ya kemarin di bawa keyayasan. Mas kemarin waktu ayah ngobrol. Mas kebelakang. Mas ketemu sama anak-anak panti . mereka lagi ngak bisa tidur juga. Kata mereka, kamar panas trus banyak nyamuk. Kasihan deh yah, mas sedih ngelihat kondisi mereka. Lalu mas tanya sama mereka kenapa banyak nyamuk. Rupanya dikamar ngak ada kawat nyamuk sama ngak ada kipas angin.

Mas jadi sedih banget. Padahal Cuma masalah kawat nyamuk doang mereka ngak punya dan ngak bisa tidur. Mas jadi keinget sama keadaan dirumah ayah. Emang kamar mas kecil, tapi ngak ada nyamuk, nyaman ada AC. Tapi mas ngak bisa tidur. Itu khan artinya mas fathur khufur nikmat ayah, mas dosa banget deh ngak menyukuri karunia. Biar kecil tapi nyaman dan itu mas ngak syukuri, mas ngak berterima kasih , mas ngak tau diri. Sementara anak-anak panti mereka ngak ada nyaman-nyamannya. Mas jadi kasihan sama mereka. Karena itu mas kemarin nangis pas pulang dari yayasan. Mas nangis karena sebel sama mas sendiri yang ngak tau diri, terus kasihan sama anak panti. Kedua perasaan itubercampur aduk. Jadi mas diem dan nangis ayah.

Saya terdiam mendengar ceritanya. Fathur melanjutkan ceritanya, jadi tadi disekolah mas cerita sama temen-temen dan ternyata banyak yang tersentuh. Kita-kita pada ngumpulin duit ayah. Alhamdulillah terkumpul satu setengah juta. Trus kita pake 2 angkot ke yayasan pulang sekolah. Kita beliin 2 kipas angin sama kawat nyamuk. Trus temen mas banyak juga yang sedih ngelihat sarana disana. Khan temen mas banyak yang tajir keluarganya, juga pada bilang gini..eh kita-kita harus bersyukur lho sama keadaan kita dan kita harus berbagi sebagai ungkapan syukur kita dengan mereka. Makasih ya fathur sudah diingetin. Gitu yah..seru deh tadi.

Saya sekali lagi hanya bisa menggeserkan badan saya mendekati fathur dan memeluknya erat sambil berkata, nak..ada satu lagi yang kamu harus syukuri dan ayah syukuri. Banyak orang datang ketempat yang sama melihat hal yang sama, namun mas fathur melihat dari sisi yang berbeda. Mas menemukan diri mas fathur yang lupa bersyukur, mas menemukan jatuh kasih kepada sesama itu namanya hidayah. Ngak semua orang mendapat hidayah, sayang..ayahmupun tidak. Buktinya sewaktu mas menceritakan semua itu barusan, ayah juga baru tersadarkan, baru ngeh. Ayah juga kufur nikmat. Ayah ngak mendapatkan apa yang mas fathur dapatkan..terima kasih nak sudah mengingatkan.

Ayahmu yang seumur ini teryata masih harus mawas diri, kali ini ayah belajar dari mas fathur. Sekali lagi makasih ya nak. Saya peluk lama sekali mas fathur sambil mata berlinang air mata begitu juga mas fathur..dalam hati saya berkata, saya harus menuntaskan belajar ilmu kehidupan dari siapapun termasuk dari anak remaja hijau ini.sehingga judul diatas bisa menjadi dilanjutkan syairnya : ”berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi”. Jangan berhenti ngaca diri,saya janji terus mawas diri, terus berguru, terus belajar agar bunga berkembang pantas. Semoga bisa terus bertransformasi dan terus membuka diri. # peace # repost

(form : Telegram Mardigu WP )

***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *